ArtikelBeritaPendidikan

Penguatan Identitas Budaya Desa Warugunung sebagai Bagian dari Hak Masyarakat atas Warisan Budaya

147
×

Penguatan Identitas Budaya Desa Warugunung sebagai Bagian dari Hak Masyarakat atas Warisan Budaya

Sebarkan artikel ini
Serah Terima Buku dan Katalog oleh Nizar Ihwal Rafif anggota Sub Kelompok 6 Kepada Perwakilan Pengurus Desa Warugunung.

LELUASA.COM, Mojokerto — Di tengah arus modernisasi yang semakin cepat, banyak desa di Indonesia berada dalam posisi rentan antara tuntutan kemajuan dan ancaman hilangnya identitas lokal. Desa Warugunung, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto merupakan salah satu wilayah yang memiliki kekayaan kearifan budaya yang melimpah, dengan nilai tidak hanya sebagai warisan sejarah, tetapi juga sebagai aset penting bagi keberlanjutan kehidupan masyarakatnya. Namun, kearifan budaya tersebut selama ini lebih banyak hadir dalam praktik kehidupan sehari-hari tanpa dokumentasi yang memadai, sehingga berisiko terabaikan dan perlahan menghilang seiring perubahan zaman.

Desa Warugunung sendiri memiliki tujuh dusun yang tersebar diantaranya, dusun Kepatihan, Wonosari, Wonokerto, Kepuhgunung, Randegan, Pamotan, dan Jolopeto. Masing-masing dusun memiliki kearifan budaya yang tumbuh dari aktivitas sosial mulai dari tradisi, wisata, kesenian, hingga berbagai bentuk perayaan. Keberagaman inilah yang membentuk identitas Desa Warugunung sebagai desa yang kaya akan nilai budaya dan masih menjaga hubungan erat antara masyarakat dengan warisan leluhurnya.

Sayangnya, kekayaan budaya tersebut belum sepenuhnya terdokumentasi secara sistematis. Banyak tradisi, wisata, maupun kuliner yang hanya dikenal oleh masyarakat sekitar tanpa adanya media dokumentasi yang memadai secara tertulis. Tanpa adanya upaya pencatatan yang berkelanjutan, kearifan lokal ini berpotensi memudar, terutama di tengah perubahan pola hidup dan berkurangnya ketertarikan generasi muda terhadap tradisi yang ada. Apalagi mulai masuknya budaya populer yang menurunkan ketertarikan generasi muda terhadap tradisi lokal.

Berawal dari permasalahan tersebut, anggota Sub Kelompok 6 Nizar Ihwal Rafif dengan dosen pembimbing lapangan Novi Andari S.S,. M.Pd, menjadikan literasi budaya lokal menjadi langkah strategis untuk memperkuat identitas di Desa Warugunung. Literasi budaya tidak hanya soal membaca dan menulis, tetapi juga tentang upaya mengenali, mendokumentasikan, dan menyebarluaskan nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat. Dalam konteks ini, penyusunan buku dan katalog budaya lokal menjadi media penting untuk merekam kekayaan di Desa Warugunung secara utuh dan berkelanjutan.

Buku dan katalog tersebut disusun sebagai bentuk inventarisasi kearifan budaya lokal yang mencakup potensi wisata desa, kuliner tradisional warisan leluhur, serta berbagai praktik sosial dan keagamaan masyarakat. Melalui dokumentasi ini, budaya lokal tidak hanya disimpan sebagai arsip, tetapi juga dihadirkan sebagai sumber pengetahuan yang dapat diakses oleh masyarakat luas. Bagi warga Warugunung, buku dan katalog ini menjadi ruang refleksi atas jati diri desa, sementara bagi pihak luar, keduanya berfungsi sebagai media pengenalan terhadap kekayaan budaya yang dimiliki oleh Desa Warugunung.

Literasi budaya lokal juga membuka peluang pengembangan desa berbasis budaya. Ketika potensi wisata dan kuliner dikemas secara informatif dan menarik, budaya tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang statis, melainkan sebagai sumber daya yang mampu mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dengan demikian, penguatan identitas budaya berjalan seiring dengan upaya peningkatan kesejahteraan warga. Buku dan katalog menjadi bukti bahwa budaya lokal layak dicatat, dirawat, dan dibanggakan. Dari langkah sederhana ini, menunjukkan bahwa kemajuan tidak harus mengorbankan jati diri, melainkan dapat tumbuh berdampingan dengan nilai-nilai budaya yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat.

Literasi budaya lokal melalui penyusunan buku dan katalog ini diharapkan tidak berhenti sebagai hasil dokumentasi, melainkan menjadi pijakan awal bagi pengembangan Desa Warugunung secara berkelanjutan, Diperlukan keterlibatan aktif berbagai pihak, mulai dari pemerintah desa, komunitas budaya, hingga generasi muda, agar nilai-nilai budaya yang telah didokumentasikan dapat terus hidup dan berkembang.

Sejalan dengan itu, Bapak Budi selaku pengurus Pasar Keramat dan perwakilan pihak desa menyambut baik hadirnya buku dan katalog budaya lokal sebagai media penguatan identitas desa. Salah satu perangkat Desa Warugunung menilai bahwa dokumentasi kearifan budaya lokal ini menjadi langkah penting untuk menjaga warisan leluhur agar tetap dikenal oleh generasi muda. Keberadaan buku dan katalog tersebut juga diharapkan dapat membantu desa dalam mengenalkan potensi wisata dan kuliner kepada masyarakat luas, sekaligus menjadi rujukan bersama dalam upaya pelestarian dan pengembangan budaya lokal Warugunung.

Penulis: Nizar Ihwal Rafif
dengan dosen pembimbing lapangan Novi Andari S.S,. M.Pd
Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Editor: Ardi Handayat, Tim LELUASA.com