ArtikelPendidikan

Pesantren di Tengah Arus Modernisasi, Menjaga Tradisi atau Menyesuaikan Zaman?

195
×

Pesantren di Tengah Arus Modernisasi, Menjaga Tradisi atau Menyesuaikan Zaman?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi yang menggambarkan pesantren di tengah arus modernisasi, menjaga tradisi atau menyesuaikan zaman?

LELUASA.COM, Yogyakarta — Seperti yang kita tau pesantren atau pondok pesantren itu merupakan lembaga pendidikan islam yang berlandaskan pada nilai-nilai keagamaan, keteladanan dan kesederhanaan. Di dalamnya para santri belajar dan dibimbing oleh seorang kyai dan dengan fokus utama pada pengembangan kemandirian, moralitas, serta pembentukan karakter. Pesantren memiliki berbagai variasi, seperti pesantren salafiyah yang menekankan pada kajian kitab kuning tanpa kurikulum formal dan pesantren modern yang mengintegrasikan hafalan Al-Qur’an dengan kurikulum umum.

Materi yang diajarkan umumnya mencakup tauhid, akidah akhlak, fikih, qur’an hadist dan bahasa arab. Saat ini pesantren telah berkembang luas, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di mancanegara, dengan peminat dari luar negeri yang ingin menyekolahkan anak-anak mereka di sana dan pesantren sendiri tidak ada batas strandarisasi untuk belajar agama didalamnya.

Lembaga tersebut telah melahirkan banyak pemimpinan bangsa Indonesia dari masa lalu hingga sekarang, serta kontribusi aktif dalam pembangunan nasional. Peran pesantren terutama menonjol di masa lalu, seperti dalam gerakan perlawanan melawan penjajah.

Tetapi seiring kemajuan teknologi pesantren pun mengalami perubahan untuk mengikuti perkembangan zaman, meskipun tidak semua lembaga menerapkannya secara seragam. Beberapa pesantren telah menggunakan internet dan smartphone, yang memungkinkan santri mengakses informasi dengan lebih cepat dan efisien.

Dalam perkembanganya pesantren telah melalui banyak berbagai fase, baik dalam metodologi maupun organisasi, terutama di bidang pendidikan yang erat kaitanya dengan modernisasi. Modernisasi pendidikan islam tidak terpisahkan dari kebangkitan umat Muslim di era modern, sehingga pemikiran dan lembaga islam, termasuk pesantren perlu diperbaharui agar selaras dengan kerangka modernitas.

Mempertahankan model tradisional semata-mata akan memperpanjang keterbelakangan umat islam dalam kemajuan global. Oleh karena itu pesantren harus menjaga tradisi warisan leluhur sambil tetap mempertahankan nilai-nilai luhur yang diwariskan secara turun-temurun.

Dalam konteks ini, penting untuk meninjau kembali peran modernisasi di pesantren, yang terus mengalami transformasi dalam aspek, kurikulum, metode pembelajaran, kepemimpinan, dan media. Tulisan ini menggambarkan bagaimana modernisasi berperan penting, sekaligus menyoroti tantangan dan kekhawatiran yang muncul, yakni bagaimana pesantren dapat tetap menjaga identitasnya di tengah perubahan.

Dengan demikian, pembahasan ini bertujuan memberikan pemahaman mendalam tentang modernisasi pendidikan islam, khususnya di pesantren. Di era modern ini, pesantren tidak harus memilih antara tradisi dan perubahan melainkan mencapai keseimbangan antara keduanya.

Pesantren secara intrinsik membentuk karakter islami, moral yang kuat dan nilai-nilai keagamaan, dengan unsur-unsur utama seperti kyai, santri, kitab kuning, asrama, kurikulum modern, masjid dan sistem pengajaran. Namun, sebagai lembaga pendidikan, pesantren menghadapi tantangan besar dalam merespon modernisasi agar tetap relevan tanpa kehilangan jati dirinya.

Tantangan tersebut meliputi teknologi dan digitalisasi untuk sarana pembelajaran serta administrasi, spiritual, tetapi juga akademik dan ketrampilan. Pembentukan watak dan karakter yang kuat menjadi krusial agar lulusan pesantren mampu bertahan di tengah globalisasi dan dampak negatifnya.

Untuk menjaga tradisi sambil menyesuaikan zaman pesantren perlu melanjutkan dan mengembangkan warisan budayanya tanpa khawatir tradisi tersebut akan punah. Teknologi canggih dapat dimanfaatkan secara bijak, seperti dakwah dan kajian online.

Pesantren tidak harus memilih salah satu ekstrem modernisasi berlebihan atau penolakan total melainkan menerima inovasi yang bermanfaat sambil menolak yang bertentangan dengan agama atau nilai-nilai pesantren. Pesantren harus tetap berpegang teguh pada ajaran dasar, misalnya dengan mengintergrasikan dakwah melalui media sosial atau mengajarkan kitab kuning menggunakan alat digital.

Oleh karena itu pesantren memainkan peran penting dalam meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap pendidikan agama dan kebudayaan islam, serta sebagai pusat tempat pendidikan yang memberikan dampak pengaruh positif bagi lingkungan sekitar.

Pembaharuan pesantren sebaiknya di fokuskan pada pengembangan pembelajaran dan kurikulum, serta pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan dan pengaruh positif terhadap masyarakat. Dengan pedekatan ini, pesantren dapat terus berkontribusi sebagai pilar pendidikan yang kokoh di tengah dinamika zaman.

Penulis: Ulya Destanti
Mahasiswa Institut Ilmu Al-Qur’an An-nur Yogyakarta (PAI)

Editor: Ardi Handayat, Tim LELUASA.com