Uncategorized

Saat Pendidikan Tunduk pada Pasar Kerja

64
×

Saat Pendidikan Tunduk pada Pasar Kerja

Sebarkan artikel ini

LELUASA.COM, Yogyakarta — Pada era globalisasi, sistem pendidikan yang terealisasi cenderung menuntut peserta didik pada pencapaian keuntungan ekonomi dan kebutuhan pasar kerja. Teori Ekonomi yang terkenal, yaitu Pertumbuhan Solow menjelaskan bahwa tiga pilar utama pertumbuhan ekonomi ada pada akumulasi modal, pertumbuhan tenaga kerja, serta kemajuan teknologi sebagai faktor eksogen dengan aspek pendidikan sebagai salah satu faktor utama. Teori ini menjadi bukti bahwa, saat realisasi praktik pendidikan sering kali diarahkan pada target tujuan pertumbuhan ekonomi dibandingkan dengan pembentukan karakter dan nilai kemanusiaan.

Stereotipe Masyarakat terhadap Pendidikan

Dominasi tujuan pendidikan yang berorientasi pada nilai ekonomi menyebabkan masyarakat memiliki stereotip tertentu terhadap penjurusan program studi. Jurusan yang berkaitan dengan sains dan teknologi cenderung dianggap lebih penting, bahkan menjadi program studi favorit dengan tingkat keketatan yang tinggi karena memiliki prospek ekonomi yang tinggi. Sementara itu, keilmuan di bidang humaniora dan seni seringkali dipandang kurang penting, padahal bidang tersebut memiliki peran dalam membangun kualitas berpikir kritis, empati, serta kesadaran sosial dalam bermasyarakat.

Pada tingkat Sekolah Menengah Atas di Indonesia, jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) memiliki kecenderungan dipandang lebih unggul karena memiliki prospek ekonomi yang lebih menjanjikan kedepannya. Stereotip bahwa “jurusan IPA akan lebih mudah untuk lintas jurusan ke humaniora atau seni” menunjukkan hirarki nilai dalam sistem pendidikan yang menempatkan IPA lebih unggul dibanding pilihan lain. Akibatnya, siswa didorong untuk memilih jurusan berdasarkan persepsi sosial akan keuntungan dan fleksibilitas di masa depan.

Kondisi ini justru membatasi individu untuk menemukan arah impian dan potensi hidupnya. Tuntutan sosial untuk bisa menjadi pribadi yang lebih dipandang melalui pilihannya, akan berisiko pada ketidakpuasan dalam kehidupan pribadi maupun profesional yang memengaruhi pola kehidupan individu dalam bermasyarakat.

Memahami Esensi Pendidikan dalam Lingkup Antropologi

Dalam artikelnya, Martha C. Nussbaum (2009) menyebutkan bahwa dalam pergeseran tujuan eksistensi pendidikan yang semakin berorientasi pada aspek ekonomi justru akan merusak sistem sosial. Generasi saat ini akan cenderung menjadi pribadi yang tidak kritis terhadap isu sosial sehingga tidak dapat menjalankan peran sebagai masyarakat sosial yang bertanggung jawab. Upaya realisasi pendidikan saat ini yang semakin berfokus pada nilai, ujian, serta kemampuan bekerja akan menggeser tujuan pendidikan dalam membentuk manusia sebagai individu dengan kepekaan sosial. Oleh karena itu, diperlukan pergeseran paradigma dalam sistem pendidikan, yang dimulai dari menghargai seluruh bidang keilmuan dengan setara dalam masyarakat.

Setiap bidang keilmuan tentunya memiliki arah dan tujuan strategis dari hasil pembelajaran dalam membentuk individu yang tidak hanya kompeten secara teknis, namun juga mampu merealisasikan bidang keilmuan secara nyata. Dominasi pandangan yang mengutamakan bidang tertentu akan mempersempit esensi pendidikan. Maka dari itu, terwujudnya keseimbangan antara seluruh pandangan pada bidang keilmuan akan mengembalikan makna pendidikan sebagai aspek yang dapat membentuk pola pikir kritis, empatik, serta mampu menjaga keberlangsungan sistem sosial yang sehat.

Referensi:

Nussbaum, M. C. (2009). Education for profit, education for freedom. Liberal Education, 95(3), 6–13. https://www.aacu.org/liberaleducation

Firman Setiawan

Penulis: Valencia Oktaliana

Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi, Universitas Gadjah Mada

Editor: Ardi Handayat, Tim LELUASA.com